Kecerdasan buatan mulai masuk ke berbagai sisi layanan kesehatan. Bukan cuma untuk menjawab pertanyaan seputar penyakit, teknologi ini juga mulai digunakan untuk membantu dokter ketika berkonsultasi dengan pasien.

Hal tersebut dilakukan Alodokter lewat teknologi AI klinis yang digunakan di layanan telemedisinnya. Sistem ini kemudian diuji dalam sebuah penelitian yang melibatkan peneliti dari Stanford University dan UC Berkeley.

Penelitian tersebut melihat bagaimana AI bekerja ketika mendampingi dokter dalam konsultasi pasien secara langsung. Bukan menggunakan kasus buatan, penelitian ini memakai data dari konsultasi dokter umum yang sudah dianonimkan.

Sebanyak 402 konsultasi diperiksa dalam penelitian yang dilakukan pada 19-21 April 2026. Hasilnya cukup tinggi. Sebanyak 397 konsultasi atau 98,8 persen dinilai aman secara klinis atau memiliki kekurangan minor yang tidak dianggap membahayakan pasien.

Dinilai oleh Tiga Dokter

Penilaian tidak dilakukan oleh sistem AI lain. Para peneliti melibatkan tiga dokter independen yang kemudian memeriksa jalannya konsultasi.

Ada 14 aspek keselamatan klinis yang menjadi perhatian. Di antaranya bagaimana informasi pasien dikumpulkan, apakah tanda bahaya berhasil dikenali, ketepatan diagnosis, rekomendasi obat dan pemeriksaan, sampai keputusan untuk melakukan rujukan.

Dari 402 konsultasi, sebanyak 388 kasus atau 96,5 persen dinilai aman. Kemudian ada sembilan kasus atau 2,2 persen yang ditemukan memiliki kekurangan minor.

Sementara itu, lima konsultasi lainnya atau sekitar 1,2 persen masuk kategori tidak aman.

Temuan ini menunjukkan bahwa AI masih bisa melakukan kesalahan dalam situasi tertentu. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kemampuan mengenali kondisi yang membutuhkan rujukan segera serta ketepatan pemberian dosis obat, khususnya pada pasien anak.

Bukan untuk Menggantikan Dokter

Alodokter menempatkan AI sebagai pendamping dokter, bukan sebagai pengganti.

Dalam proses konsultasi, AI dapat membantu dokter mengumpulkan informasi mengenai kondisi pasien, memberikan pertimbangan terkait diagnosis, hingga membantu rekomendasi pemeriksaan, obat, dan rujukan.

Meski begitu, dokter tetap memegang keputusan akhir. Rekomendasi dari AI bisa diperiksa, diubah, atau bahkan ditolak oleh dokter sebelum diberikan kepada pasien.

Teknologi tersebut sendiri sudah digunakan Alodokter sejak Januari 2026. Perusahaan menyebut hampir seluruh dokter umum di platformnya telah menggunakan bantuan AI dalam konsultasi.

Masih Akan Diuji Lebih Lanjut

Hasil uji dengan angka 98,8 persen bukan berarti AI Alodokter sudah bebas dari kesalahan. Penelitian tersebut justru menunjukkan masih ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki.

Selain itu, penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya melihat data dari satu platform dan belum membandingkan hasilnya dengan kelompok yang tidak menggunakan bantuan AI.

Karena itu, peneliti berencana melanjutkan pengujian melalui randomized controlled trial atau uji acak terkontrol. Pengujian berikutnya akan melihat lebih jauh apakah penggunaan AI benar-benar dapat meningkatkan kualitas layanan sekaligus membantu produktivitas dokter.

Dengan pengembangan seperti ini, penggunaan AI di layanan kesehatan tidak hanya soal seberapa cepat teknologi memberikan jawaban. Faktor keselamatan dan keputusan dokter tetap menjadi bagian penting ketika teknologi tersebut digunakan untuk menangani pasien.