AI kini bisa membuat gambar dalam hitungan detik, menulis artikel, menyusun desain, bahkan menghasilkan video. Teknologi ini membuat berbagai pekerjaan kreatif yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam dapat dilakukan jauh lebih cepat.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa diabaikan. Hasil buatan AI ternyata masih sering bikin manusia garuk-garuk kepala. Mulai dari detail gambar yang aneh, tulisan yang terasa terlalu robotik, hingga informasi yang perlu diperiksa ulang sebelum benar-benar digunakan.
Di sinilah muncul pekerjaan yang mungkin terdengar agak ironis: AI cleanup. Ketika AI menghasilkan karya, manusia justru dibutuhkan untuk membereskan bagian yang masih berantakan. Freelancer pun mulai mendapatkan order untuk memperbaiki hasil karya yang dibuat menggunakan AI.
AI Bikin Konten, Manusia yang Bereskan
AI cleanup pada dasarnya merupakan pekerjaan menyempurnakan output yang dihasilkan kecerdasan buatan. Bentuknya bisa bermacam-macam, tergantung kebutuhan klien.
Dalam desain grafis, misalnya, freelancer dapat diminta memperbaiki objek yang bentuknya tidak masuk akal, menghapus bagian yang cacat, memperbaiki komposisi, atau meningkatkan kualitas gambar.
Sementara dalam pekerjaan menulis, tugasnya bisa berupa menyunting kalimat agar terdengar lebih natural, mengurangi pengulangan, memperbaiki struktur tulisan, hingga memastikan informasi yang diberikan tidak keliru.
Jadi, AI memang mengerjakan bagian awal. Namun, manusia tetap turun tangan untuk memastikan hasil akhirnya benar-benar layak digunakan.
Lowongan “AI Cleanup” Ikut Naik
Fenomena tersebut mulai terlihat di sejumlah platform freelance.
Freelancer.com mencatat lowongan yang berkaitan dengan kata kunci seperti “correct AI”, “AI hallucination”, dan “AI error” mengalami peningkatan 87 persen. Sepanjang Agustus 2025 hingga Juni 2026, terdapat sekitar 10.760 lowongan yang menggunakan kata kunci tersebut.
Jenis pekerjaannya pun cukup beragam, mulai dari desain grafis, editing video, proofreading, hingga penulisan konten.
Tren serupa juga terlihat di Upwork. Platform tersebut mencatat pekerjaan yang berkaitan dengan perbaikan hasil AI meningkat sekitar 70 persen secara tahunan.
Sementara itu, pencarian layanan “AI cleanup” di Fiverr disebut melonjak lebih dari 20 kali lipat antara 2023 dan 2026.
Desainer Ikut Kebanjiran Pekerjaan
Salah satu freelancer yang mengalami perubahan jenis pekerjaan tersebut adalah Lisa, desainer grafis freelance yang tinggal di Spanyol.
Sebelum AI generatif semakin populer, ia lebih banyak mengerjakan desain seperti logo dan kemasan. Namun, setelah AI mulai banyak digunakan klien, pekerjaannya ikut berubah.
Lisa semakin sering menerima proyek untuk memperbaiki desain yang sebelumnya dibuat menggunakan AI. Bahkan, pekerjaan tersebut disebut menyumbang sekitar 60 hingga 70 persen pendapatannya sepanjang 2025.
Namun, pekerjaan AI cleanup tidak selalu mudah.
Desain yang dihasilkan AI memang bisa terlihat bagus pada pandangan pertama. Tetapi ketika diperiksa lebih detail, bisa saja ditemukan sejumlah kesalahan kecil yang membutuhkan banyak waktu untuk diperbaiki.
Dalam kondisi tertentu, freelancer bahkan bisa menghabiskan waktu hampir sama banyaknya seperti ketika membuat desain tersebut dari awal.
Persoalan lain adalah harga. Sebagian klien menganggap pekerjaan memperbaiki hasil AI semestinya dibayar murah karena proses pembuatannya sudah dibantu mesin.
Padahal, kemampuan menemukan kesalahan dan memperbaikinya tetap membutuhkan keahlian.
Tulisan AI Juga Butuh Sentuhan Manusia
Bukan hanya desainer yang mendapatkan pekerjaan semacam ini. Penulis dan editor freelance juga mulai berhadapan dengan permintaan serupa.
Teks buatan AI memang dapat terlihat rapi secara tata bahasa. Namun, terkadang gaya penulisannya terasa monoton, terlalu berulang, atau kurang memiliki nuansa yang diharapkan pembaca.
Kym Dunbar, penulis dan editor freelance asal Australia, menyebut sekitar 60 persen beban kerjanya berasal dari pekerjaan memperbaiki teks buatan AI.
Ia menangani berbagai materi, mulai dari buku nonfiksi, artikel panjang, hingga dokumen teknis.
Artinya, ketika perusahaan atau individu menggunakan AI untuk mempercepat produksi konten, tetap ada kebutuhan terhadap orang yang memastikan hasil akhirnya tidak terasa seperti teks mentah dari mesin.
AI Gantikan Pekerjaan atau Justru Ciptakan Pekerjaan?
Fenomena AI cleanup memperlihatkan sisi lain dari perkembangan kecerdasan buatan.
AI memang mampu mengambil alih sebagian pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia. Namun, teknologi tersebut juga menciptakan kebutuhan baru yang belum tentu ada sebelumnya.
Semakin banyak konten dibuat menggunakan AI, semakin besar pula kebutuhan terhadap orang yang mampu memeriksa, menyunting, dan memperbaiki hasilnya.
Bagi freelancer, kemampuan menggunakan AI pun perlahan bukan lagi satu-satunya modal. Kemampuan mengoreksi hasil AI dan mengetahui bagian mana yang masih membutuhkan sentuhan manusia bisa menjadi keahlian tersendiri.
Ironisnya, di tengah kekhawatiran AI akan mengambil pekerjaan manusia, kini justru ada freelancer yang mendapatkan pekerjaan karena AI masih belum cukup rapi untuk mengerjakannya sendirian.




